Perempuan itu duduk di antara para lelaki yang sedang riuh bermain kartu remi. Asap rokok mengepul di sepanjang permainan, menyelubungi perempuan itu, yang setia menemani para lelaki pemain kartu. Meski perempuan itu terbatuk-batuk terpapar asap rokok, dia bergeming. Dia tetap duduk manis menemani para lelaki pemain kartu.
Perempuan itu tertawa melengking di antara gaduhnya tawa para lelaki pemain kartu remi. Bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala, menebarkan pesona ke sekeliling meja. Para lelaki pemain kartu makin bersemangat. Teriakan riang dan seruan senang membahana memenuhi ruangan. Meski sesekali para lelaki membuat seloroh cabul, perempuan itu masih bergeming. Dia justru menikmati suasana seperti itu.
Perempuan itu bukan perempuan sembarangan. Perempuan itu bukan perempuan yang dibayar untuk menemani para lelaki. Perempuan itu hanya kesepian. Perempuan itu tak bertuan. Perempuan itu tak berteman. Perempuan itu melepaskan dahaga kesendiriannya dengan cara seperti itu.
Tapi perempuan itu tak paham. Tak lagi ada respek dari para lelaki pemain kartu terhadapnya. Tak lagi ada simpati dari para lelaki pemain kartu terhadapnya. Tak lagi ada harga, tak lagi ada jiwa. Perempuan itu dihina. Perempuan itu disepelekan. Perempuan itu dilecehkan.
Andai perempuan itu berpikir bijak. Membunuh kesepiannya dengan cara yang lebih elegan. Menghapus kegalauannya dengan hal yang lebih bermanfaat. Melepas dahaganya dengan cara yang menyejukkan. Tentu perempuan itu menjadi lebih berarti. Lebih bernilai. Lebih berharga.
Tapi perempuan itu masih di sini. Menemani para lelaki pemain kartu remi. Setiap hari...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar