Selasa, 20 Januari 2015

Lelaki yang Memboncengkan Gerobak

Pukul enam pagi. Lelaki itu menyiapkan gerobak dagangannya yang berisi berbagai macam mainan anak-anak. Gerobak itu dia dudukkan di atas jok sepeda motor bututnya. Sebenarnya "gerobak" itu tidak pantas disebut gerobak, karena gerobak biasanya didorong, bukan diletakkan di atas jok motor. Gerobak versi lelaki itu adalah sebuah kotak besar dari kayu, yang didesain sedemikian rupa sehingga mampu menampung puluhan mainan anak-anak yang didagangkannya. Gerobak itu dia ikatkan di atas jok motornya sehingga dia leluasa untuk membawa gerobaknya kemana-mana  --ke tempat sempit sekalipun!!

Pukul enam pagi adalah waktu yang tepat baginya untuk mulai berdagang mainan karena biasanya anak-anak sekolah sudah mulai berdatangan pada waktu itu. Anak-anak SD dan TK --tempat dia biasa mangkal-- akan menyempatkan diri menyinggahinya, melihat-lihat beraneka mainan yang dipajang di gerobaknya, dan berkomentar mengenai mainan-mainan tersebut. Lalu satu atau dua anak akan membeli mainan yang sesuai dengan keinginannya, disusul oleh tiga atau empat anak, lima... enam... dan seterusnya, sampai bel masuk sekolah berdentang.

Lelaki itu memang memiliki banyak pelanggan cilik. Ini dikarenakan harga mainan yang dijualnya tidak terlalu mahal. Dia menggunakan prinsip Rasulullah saat berniaga, yakni barang berkualitas dengan harga yang terjangkau. Dia juga membiasakan jujur dalam berdagang agar dapat membawakan rezeki yang halal dan berkah kepada anak istrinya di rumah. Satu kebiasaan yang tidak pernah ia lewatkan adalah menunaikan salat Duha supaya apa yang dia lakukan pada hari itu membawa manfaat bagi dirinya, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya.

Pernah satu ketika dia bercerita. Seorang pedagang tempat dia mangkal datang marah-marah ke hadapannya. Sambil mengancam, pedagang tersebut memaksa lelaki itu mencari tempat mangkal lain. Keberadaan lelaki itu ternyata berdampak buruk terhadap pendapatan si pedagang yang marah-marah itu. Lelaki itu mengalah. Sambil tersenyum, dia meminta maaf dan meminta agar tetap diizinkan mangkal di sekolah itu. Dia akan sedikit bergeser ke belakang sekolah agar si pedagang tidak terganggu. Si pedagang menyetujui. Mahabesar Allah, Sang Pemilik Rezeki. Walaupun lelaki itu berdagang di belakang sekolah, pelanggannya tetap tak berkurang. Malah semakin bertambah. Kabar baik yang lain adalah si pedagang yang marah-marah justru sekarang bersahabat dengannya.

Begitulah lelaki itu. Setiap pagi memboncengkan gerobak mainannya. Berpamitan pada anak istrinya yang setia melepas kepergiannya dengan doa. Berharap agar hari ini kembali dianugerahi rezeki untuk dibawa pulang. Bersyukur atas segala cobaan yang dia peroleh saat berniaga. Bersujud saat waktunya tiba.

Begitulah lelaki itu. Darinya aku belajar sederhana. Darinya aku belajar sabar. Darinya aku belajar bersyukur. Darinya aku belajar menangis. Dari lelaki yang memboncengkan gerobak, ayah anak-anakku.





1 komentar:

Entri Populer